Jungkir balik bumi membenahi diri
Berusaha benar-benar tak melempar manusia
Berjuta kali bumi di sakiti
Jangankan menyesal manusia tak pernah menagisi
Matahari terik terus menggugat bumi
Menggugat agar menuntut balas kepada tangan tak bernorma
Tangan-tangan merusak keindahan bumi
Tangan-tangan yang melahap bumi tanpa tahu masa
Bumi meleleh meneteskan air mata
Bumi menangis dalam diam
Bumi igin berhenti berjalan
Memberi pelajaran, meminta balasan
Bencana datang silih berganti
Tetapii siapa yang di salahkan?
Bumi...
Bumi tak tahu apa-apa
Bumi hanya mencoba memperlihatkan
Memperlihatkan apa yang seharusnya ia dapat
Dan apa yang seharusnya mereka dapat
Demi berjalannya waktu
Demi agar bumi tak menyeret kita
Demil luka-luka yang kita sebabkan
Demi teriakan bumi dalam diam
Seharusnya kita peka, buka telinga, dan mata
Meyakinkan diri
Bumi milik kita, harus kita jaga
Bukan menutup telinga
Bukan hanya menghabisi, melahap
Bukan hanya berharap
Bumi lebih mahal dari hanya dolar pribadi
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Senin, 25 April 2011
Senin, 21 Februari 2011
Bulu
Angin datang pergi lagi
Aku terbawa sedikit seluruh
Tak sengaja aku terbang
Mendekati sesuatu yang belum pernah ku sentuh
Rasanya lembut
Harum, mungkin itu yang kucium bila aku memiliki hidung
Begitu... Berbeda...
Pertama kali, ya ini pertama kali
aku mendekat, bukan karena angin
Ini keinginan ku
Aku ingin melihatnya
dekat dekat lagi dan lagi
Sbenarnya ini bukan keinginan
Tapi kebutuhan
Heroin ya heroin sperti itu
Begitu melayang
Udara aku butuh udara
Tidak lagi sekarang
Dia udara ku
Dia nafasku
dia hidupku
Bukan bukan hanya itu
Dia terlalu berarti untuk jadi berarti
aku sesak. Bukan aku kehilangan
Karna dia pergi...
Jangan pergi
Dia tidak pergi
Tapi dia layu
Ooh,, aku terlalu mendekat
Jangan layu
Tolong, aku sudah menjauh.
Jangan pernah layu
Aku tidak lagi berusaha menyentuhMu
derak panas kan simpan selamanya,
Hingga semua sudah dingin dan berlalu
Aku terbawa sedikit seluruh
Tak sengaja aku terbang
Mendekati sesuatu yang belum pernah ku sentuh
Rasanya lembut
Harum, mungkin itu yang kucium bila aku memiliki hidung
Begitu... Berbeda...
Pertama kali, ya ini pertama kali
aku mendekat, bukan karena angin
Ini keinginan ku
Aku ingin melihatnya
dekat dekat lagi dan lagi
Sbenarnya ini bukan keinginan
Tapi kebutuhan
Heroin ya heroin sperti itu
Begitu melayang
Udara aku butuh udara
Tidak lagi sekarang
Dia udara ku
Dia nafasku
dia hidupku
Bukan bukan hanya itu
Dia terlalu berarti untuk jadi berarti
aku sesak. Bukan aku kehilangan
Karna dia pergi...
Jangan pergi
Dia tidak pergi
Tapi dia layu
Ooh,, aku terlalu mendekat
Jangan layu
Tolong, aku sudah menjauh.
Jangan pernah layu
Aku tidak lagi berusaha menyentuhMu
derak panas kan simpan selamanya,
Hingga semua sudah dingin dan berlalu
