Tampilkan postingan dengan label karyaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karyaku. Tampilkan semua postingan
Selasa, 26 April 2011
Jeritan Masal
Daun mendayu mengikuti angin.
Angin mengalun mengikuti,hentakan bebatuan.
Batu berhentak,berjungkat-jungkit d hantam berkorban.
Tangan sang penghentak.
Tangan sang penggelak.
Tertepis,terbuang,terpekik.
Berayun menjungkal,
sisa tangan mengukil mata
sisa tangan memenggal kepala.
Hati bergemeruyuk.
Duka berlomba bergemuruh d hati.
Duka berlomba gerakkan jantung
duka berlomba mengancam lidah agar beralun.
Tapi kepasrahan mngalahkan semua, tekat memotong hati.
Kuat penjarakan jantung.
Ke ikhlasan memotong lidah.
Dan raga hanya tersisa nyawa dalam ke pasrahan,tekat,kuat n ke ikhlasan.
Senin, 25 April 2011
Lelehan Bumi
Jungkir balik bumi membenahi diri
Berusaha benar-benar tak melempar manusia
Berjuta kali bumi di sakiti
Jangankan menyesal manusia tak pernah menagisi
Matahari terik terus menggugat bumi
Menggugat agar menuntut balas kepada tangan tak bernorma
Tangan-tangan merusak keindahan bumi
Tangan-tangan yang melahap bumi tanpa tahu masa
Bumi meleleh meneteskan air mata
Bumi menangis dalam diam
Bumi igin berhenti berjalan
Memberi pelajaran, meminta balasan
Bencana datang silih berganti
Tetapii siapa yang di salahkan?
Bumi...
Bumi tak tahu apa-apa
Bumi hanya mencoba memperlihatkan
Memperlihatkan apa yang seharusnya ia dapat
Dan apa yang seharusnya mereka dapat
Demi berjalannya waktu
Demi agar bumi tak menyeret kita
Demil luka-luka yang kita sebabkan
Demi teriakan bumi dalam diam
Seharusnya kita peka, buka telinga, dan mata
Meyakinkan diri
Bumi milik kita, harus kita jaga
Bukan menutup telinga
Bukan hanya menghabisi, melahap
Bukan hanya berharap
Bumi lebih mahal dari hanya dolar pribadi
Berusaha benar-benar tak melempar manusia
Berjuta kali bumi di sakiti
Jangankan menyesal manusia tak pernah menagisi
Matahari terik terus menggugat bumi
Menggugat agar menuntut balas kepada tangan tak bernorma
Tangan-tangan merusak keindahan bumi
Tangan-tangan yang melahap bumi tanpa tahu masa
Bumi meleleh meneteskan air mata
Bumi menangis dalam diam
Bumi igin berhenti berjalan
Memberi pelajaran, meminta balasan
Bencana datang silih berganti
Tetapii siapa yang di salahkan?
Bumi...
Bumi tak tahu apa-apa
Bumi hanya mencoba memperlihatkan
Memperlihatkan apa yang seharusnya ia dapat
Dan apa yang seharusnya mereka dapat
Demi berjalannya waktu
Demi agar bumi tak menyeret kita
Demil luka-luka yang kita sebabkan
Demi teriakan bumi dalam diam
Seharusnya kita peka, buka telinga, dan mata
Meyakinkan diri
Bumi milik kita, harus kita jaga
Bukan menutup telinga
Bukan hanya menghabisi, melahap
Bukan hanya berharap
Bumi lebih mahal dari hanya dolar pribadi
Senin, 21 Februari 2011
Bulu
Angin datang pergi lagi
Aku terbawa sedikit seluruh
Tak sengaja aku terbang
Mendekati sesuatu yang belum pernah ku sentuh
Rasanya lembut
Harum, mungkin itu yang kucium bila aku memiliki hidung
Begitu... Berbeda...
Pertama kali, ya ini pertama kali
aku mendekat, bukan karena angin
Ini keinginan ku
Aku ingin melihatnya
dekat dekat lagi dan lagi
Sbenarnya ini bukan keinginan
Tapi kebutuhan
Heroin ya heroin sperti itu
Begitu melayang
Udara aku butuh udara
Tidak lagi sekarang
Dia udara ku
Dia nafasku
dia hidupku
Bukan bukan hanya itu
Dia terlalu berarti untuk jadi berarti
aku sesak. Bukan aku kehilangan
Karna dia pergi...
Jangan pergi
Dia tidak pergi
Tapi dia layu
Ooh,, aku terlalu mendekat
Jangan layu
Tolong, aku sudah menjauh.
Jangan pernah layu
Aku tidak lagi berusaha menyentuhMu
derak panas kan simpan selamanya,
Hingga semua sudah dingin dan berlalu
Aku terbawa sedikit seluruh
Tak sengaja aku terbang
Mendekati sesuatu yang belum pernah ku sentuh
Rasanya lembut
Harum, mungkin itu yang kucium bila aku memiliki hidung
Begitu... Berbeda...
Pertama kali, ya ini pertama kali
aku mendekat, bukan karena angin
Ini keinginan ku
Aku ingin melihatnya
dekat dekat lagi dan lagi
Sbenarnya ini bukan keinginan
Tapi kebutuhan
Heroin ya heroin sperti itu
Begitu melayang
Udara aku butuh udara
Tidak lagi sekarang
Dia udara ku
Dia nafasku
dia hidupku
Bukan bukan hanya itu
Dia terlalu berarti untuk jadi berarti
aku sesak. Bukan aku kehilangan
Karna dia pergi...
Jangan pergi
Dia tidak pergi
Tapi dia layu
Ooh,, aku terlalu mendekat
Jangan layu
Tolong, aku sudah menjauh.
Jangan pernah layu
Aku tidak lagi berusaha menyentuhMu
derak panas kan simpan selamanya,
Hingga semua sudah dingin dan berlalu
Sabtu, 19 Februari 2011
Persimpangan
Seperti embun melncat-loncat
seperti burung terbang riang sprti 7 kurcaci tergelak senang semua
seprti menipiskan sekat tapi hati tak bisa berelak meski terus tergmbar di wajah gelak itu hanya topeng penutup untuk tidak menangis saat tau semua sudah tertutup tak ada lagi kesempatan sudah tergmbar jelas persimpangan Bahkan takdir menarikmu pada si bubui bulan Tidak di pungkiri memang itu membuat gelampangan
wahai, bintang terang sampai jumpa lagi di akhir terang sekarang kaita harus tak saling pandang sampai jumpa bintang terang trimksh telah menjadi penghangat hati penghancur hati
seperti burung terbang riang sprti 7 kurcaci tergelak senang semua
seprti menipiskan sekat tapi hati tak bisa berelak meski terus tergmbar di wajah gelak itu hanya topeng penutup untuk tidak menangis saat tau semua sudah tertutup tak ada lagi kesempatan sudah tergmbar jelas persimpangan Bahkan takdir menarikmu pada si bubui bulan Tidak di pungkiri memang itu membuat gelampangan
wahai, bintang terang sampai jumpa lagi di akhir terang sekarang kaita harus tak saling pandang sampai jumpa bintang terang trimksh telah menjadi penghangat hati penghancur hati
Cermin
Desir ombak ini begitu mengganggu
Hanya ada suara bahkan tak nyata
Langit-langit cermin beludru
Biru-biru menjadi satu di atas awang
Aku hanya diam disini
Bercermin dengan cermin tarsah
Melihat bayang ku dan bayangnya, berdua dicermin itu...
Tapi kabut kapas datang
Buyar bayangan tak ada sinar
Begitu jg aku dia, menghilang
Tak ada cerah cahaya kecil berpendar
Wahai bayangan kelabu biru
Datang membawa nasi bubur
Yang sudah tak mungkin utuh
Sudah lebur
Titis Kusuma
Hanya ada suara bahkan tak nyata
Langit-langit cermin beludru
Biru-biru menjadi satu di atas awang
Aku hanya diam disini
Bercermin dengan cermin tarsah
Melihat bayang ku dan bayangnya, berdua dicermin itu...
Tapi kabut kapas datang
Buyar bayangan tak ada sinar
Begitu jg aku dia, menghilang
Tak ada cerah cahaya kecil berpendar
Wahai bayangan kelabu biru
Datang membawa nasi bubur
Yang sudah tak mungkin utuh
Sudah lebur
Titis Kusuma


